
Pengembangan kemampuan berpikir kristis dapat menghasilkan memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan para Pelajar dalam hal ini bisa Siswa atau Mahasiswa adalah hal yang sangat penting. Kesadaran ini perlu dijadikan pijakan dalam pengembangan kurikulum dengan mengedepankan pembelajaran kontruktivisme. Untuk itu para pendidik perlu berbuat, merancang secara serius pembelajaran yang didasarkan pada premis proses belajar. Kemampuan berpikir kristis dapat dikembangkan melalui kegiatan pembelajaran yang dealektis. Kemampuan itu mencakup beberapa hal, diantaranya, (1) membuat keputusan dan menyelesaikan masalah dengan bijak, (2) mengaplikasikan pengetahuan, pengalaman dan kemahiran berfikir secara lebih praktik baik di dalam atau di luar ruang-ruang kelas, (3) menghasilkan idea atau ciptaan yang kreatif dan inovatif, (4) mengatasi cara-cara berfikir yang terburu-buru, kabur dan sempit, (5) meningkatkan aspek kognitif dan afektif, dan (6) bersikap terbuka dalam menerima dan memberi pendapat, membuat pertimbangan berdasarkan alasan dan bukti, serta berani memberi pandangan dan kritik
Realitas
Sering kita mendengar ungkapan dari Pendidik yakni guru atau dosen mengenai banyaknya Pelajar yang “tidak berpikir”. Mereka pergi ke sekolah atau kampus tetapi cara belajar mereka terbatas mendengarkan keterangan Pendidik, kemudian tidak mencoba memahami materi yang diajarkan. Saat ujian, para Pelajar mengungkapkan kembali materi yang telah mereka hafalkan itu. Cara belajar seperti ini, bukanlah suatu yang subtansial, dan merupakan cara belajar yang ortodoks. Mengenai nilai dan ujian, harus diakui bahwa siswa tersebut bisa menjawab pertanyaan ketika ujian.
Sebagian dari mereka mungkin mendapat nilai yang tinggi dan dianggap siswa yang sukses. Bahwa kita coba pertanyakan soal ujian tersebut di 180 hari kemudian kepada para Pelajar tersebut ditanya-setelah ujian selesai-apakah mereka masih ingat materi yang telah mereka pelajari, maka tidak heran kalau mereka sudah lupa apa yang telah mereka pelajari.
Proses pembelajaran sebagaimana digambarkan di atas banyak kita jumpai di sekolah maupun kampus. Proses pembelajaran baru dilaknasakan untuk mencapai tujuan pembelajaran pada tingkat rendah yakni mengetahui, memahami. Belum pada level mampu menumbuhkan kebiasaan berpikir kritis yakni suatu yang paling esensi dari dimensi belajar. Sebagian besar guru belum merancang pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir.
Proses pembelajaran secara umum yang sering kita temui masih menjadikan anak yang tidak bisa, menjadi bisa. Kegiatan belajar berupa kegiatan menambah pengetahuan, kegiatan menghadiri, mendengar dan mencatat penjelasan Pendidik, serta menjawab secara tertulis soal-soal yang diberikan saat berlangsungnya ujian. Pembelajaran baru diimplementasikan pada tataran proses menyampaikan, memberikan, mentransfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa. Dalam tataran ini siswa yang sedang belajar bersifat pasif, menerima apa saja yang diberikan guru, tanpa untuk mengkritisi apa yang diajarkan pengajarnya dan tidak diberikan kesempatan untuk membangun sendiri pengetahuan yang dibutuhkan dan diminatinya.
Hal yang Perlu Dilakukan
Pelajar sebagai manusia ciptaan Tuhan yang paling sempurna di dunia karena diberi otak, dibelenggu oleh Sistem Pendidikan. Pelajar yang jelas-jelas dikaruniai otak seharusnya diberdayagunakan, difasilitasi, dimotivasi, dan diberi kesempatan untuk berpikir, bernalar, berkolaborasi, untuk mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan minat dan kebutuhannya serta diberi kebebasan untuk belajar. Pemahaman yang keliru bahkan telah menjadi “mitos” bahwa belajar adalah proses menerima, mengingat, mereproduksi kembali pengetahuan yang selama ini diyakini banyak tenaga keguruan perlu dirubah. Jalaluddin Rakhmad (2005) dalam buku Belajar Cerdas, menyatakan bahwa belajar itu harus berbasis otak. Dengan kata lain revolusi belajar dimulai dari otak. Otak adalah organ paling vital manusia yang selama ini kurang dipedulikan oleh Pendidik dalam pembelajaran. Pakar komunikasi mengungkapkan kalau kita ingin cerdas maka kita harus terlebih dahulu menumbangkan mitos-mitos tentang kecerdasan
Menurut pandangan Slavin (1997) dalam proses pembelajaran guru hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuannnya sendiri dalam dengan mendayagunakan otaknya untuk berpikir. Pendidik dapat membantu proses ini, dengan cara-cara membelajarkan, mendesain informasi menjadi lebih bermakna dan lebih relevan bagi kebutuhan siswa. Caranya dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide, dan dengan mengajak mereka agar menyadari dan secara sadar menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar.
Pendidik sebaiknya hanya memberi “tangga” yang dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun harus diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat tangga tersebut.
Kesimpulan
Para Pendidik perlu melakukan refleksi tentang cara mengajar mereka dalam mempersiapkan para generasi muda dalam hal ini Pelajar untuk dapat merawat daya kritis dan intelektualitasnya. Generasi Muda tidak boleh berdiam diri saja. Karena, para pemuda ini kelak akan menjadi orang dewasa, akan menghadapi dunia yang penuh dengan tantangan dan permasalahan. Generasi Muda ini yang akan menjadi pemimpin di masa depan Negara Indonesia. Dipersiapkan untuk menghadapi Problematika hidup. Problematika inilah yang akan dihadapi oleh “pemikir”.