Menjaga Ke-bhinekaan NKRI serta toleransi antar Umat beragama dan Analisa Aksi 212

Pentingnya Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, perjalanan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan dilalui dengan berbagai perjuangan. Perjuangan dilakukan dengan semangat kebangsaan dan cinta tanah air oleh para pahlawan. Persatuan dan kesatuan merupakan modal utama untuk mencapai kemerdekaan tersebut. Hingga pada tanggal 17 Agustus 1945 rakyat Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia yang diwakili oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Nah jangan sampai Indonesia ini terpecah belah karena satu orang saja yang bernama Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, ketika saya mengikuti aksi 212. Saya tidak memakai atribut HMI(himpunan mahasiswa islam) karena sikap HMI cabang Yogyakarta menghimbau kepada kader untuk tidak turun pejalan, walaupun demikian saya tetap turun pejalan karena ini panggilan hati. Saya berani berbeda pendapat dengan pimpinan HMI cabang Yogyakarta karena cabang lain berbeda seperti Pontianak, Bogor, Sumedang, Subang. Mereka turun kejalan, saya melihat bendera HMI, lalu saya pun banyak melihat bertebaran SPANDUK Putih huruf merah mencolok ukuran besar bertuliskan “MERAWAT KEBHINEKAAN, MENJAGA INDONESIA, ada juga tulisan KITA SEMUA BERSAUDARA” Sungguh, jika membaca tulisan tulisan pada spanduk itu jiwa nasionalisme saya bergelora seakan akan saya kembali di era perjuangan 1945. Biasanya semangat nasionalisme kita sering terpanggil ketika memasuki perayaan HUT RI 17 Agustus tapi sekarang bukanlah bulan Agustus melainkan Desember. Apakah Indonesia sedang di ambang perpecahan? Ataukah Negeri ini bakal di landa huru hara besar? Saya dengan tegas TIDAK!!! Indonesia hari ini InsyaAllah aman, damai dan tenteram. Tidak ada satupun anasir anasir yang mengarah ke perpecahan atau sampai memisahkan diri dari NKRI Lalu ada apa dengan Kebhinekaan kita sehingga harus pengumuman lewat Spanduk dan Baliho yang hampir memenuhi seluruh sudut kota Jakarta, mengajak kita menjaga dan merawat BHINEKA TUNGGAL IKA. Bukankah berlaku hukum positif sebab akibat disini, Sebabnya AHOK TELAH MENISTAKAN KITAB SUCI UMAT ISLAM, AKIBATNYA UMAT ISLAM PROTES DAN REAKSI, lantas kenapa kita tidak segera mencari dan memperbaiki sebab musababnya sehingga bisa diatasi, agar tidak menimbulkan banyak akibat buruknya kedepan, Ibarat kapal ditengah lautan, bocornya dimana tambalnya dimana, maka lambat laun kapal perlahan tenggelam dan karam ke dasar laut

Islam dalam hal memaknai kebhinekaan antar suku, agama, ras. Sudah ada jelas di pedoman (Al-Qur’an) hidup diterangkan di surah Al Hujurat ayat 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

          “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal

Sangat jelas di kalimat Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Umat muslim sudah diperintahkan oleh Allah supaya kalian umat muslim mengenal agama lain, suku-suku lain. Beberapa hal yang mungkin menyebabkan kita tidak rukun adalah:
1. Di Indonesia, kasus ketidak rukunan antar agama terjadi antara Muslim dan Kristian lebih mengemuka dibanding antara Muslim dengan masyarakat Hindu dan Budha atau antara Kristian dengan agama lainnya.
2. Sebagai agama yang serumpun dengan agama Islam, agama Yahudi tidak ada penganutnya di tanah air, tetapi issu ketidak rukunan kaum Mulim dengan Yahudi menjadi issu yang mengalihkan perhatian sehingga kasus Muslim dan kristian terabaikan sebagai kasus utama yang mesti didiskusikan menyangkut ke tidak rukunan umat beragama di Indonesia.
3. Di kalangan Muslim baik kelompok intelektual maupun kelompok non intelektual masing-masing mempunyai persepsi terhadap gerakan kristian yang dipandang sebagai pemicu ketidak rukunan.
4. Di kalangan masyarakat non intelektual berkembang faham bahwa non Islam termasuk Kristian adalah orang kafir, tersesat dan bila mati pasti masuk neraka. Pandangan ini tentu bukan semata-mata berasal dari mereka sendiri, tetapi hasil pengetahuan mereka yang juga tentunya berasal dari tunjukan guru-guru agama, pengkhotbah atau ulama senior dan terakhir mungkin pula berasal dari para intelektual Muslim sendiri. Seandainya faham semacam itu berasal dari kalangan ulama atau intelektual Muslim tentulah hal itu berasal dari keyakinan teologis akibat dari pemahaman terhadap sumber dasar ajaran Islam itu yakni Al-Quran. Misalnya dalam al-Quran ada ayat yang mengungkap “Bahwa agama yang di sisi Allah adalah Islam”. Penjelasan eksklusif terhadap kata “Islam” inilah yang membuat kesan bahwa umat Islam adalah umat yang istimewa dalam pandangan Tuhan. Apalagi ditambah dengan faham bahwa kitab suci Al-Quran adalah kitab terorisinil dibanding kitab suci semua agama yang ada di dunia ini. Sejalan dengan itu ada lagi pemahaman bahwa Al-Quran adalah kitab terakhir dengan Muhammad sebagai utusan Tuhan terakhir, bertugas sebagai penyempurna kitab2 sebelumnya termasuk kitab suci umat Kristian; dan lain sebagainya…Padahal di kalangan intelektual Muslim yang terhitung moderat juga mengalami krisis kecurigaan kalau tidak dapat dikatakan ke tidak percayaan terhadap Kristian berkaitan dengan Missi yang di arahkan kepada masyarakat yang sudah memeluk agama terutama Islam, padahal kenyataan ini bertentangan dengan substansi hukum kita yang di dalamnya memelihara kerukunan. Perkawaninan pria Kristian dengan wanita Muslim yang kemudian berujung dengan ikutnya si wanita beserta anaknya ke agama suami atau ayahnya juga menjadi bahan ketersinggungan masyarakat Muslim sungguhpun ia di golongkan kepada Muslim intelektual. Banyak cara lain yang dilihat sebagai kekalahan mayoritas terhadap minoritas ini yang menjadi pemicu ketidak rukunan. Nahh apakah Ahok ini ancaman bangsa Indonesia? Saya rasa tidak, Ahok dilihat dari segi kepemimpinannya bagus, jikalau ditinjau lebih lanjut kepemimpinannya yang bagus ada niat terselubung ini menurut ilmu kecurigaan saya. Di mana kebijakan kebijakan Ahok tidak pro terhadap warga muslim seperti tidak boleh tarawih keliling kemudian yang lebih parah melarang kegiatan penampungan dan penjualan hewan kurban saat menjelang idul Adha pada trotoar dan fasilitas umum dan pelaksanaannya telah menimbulkan bentrok antara Satpol PP dengan para pedagang dan masyarakat Tanah Abang. Pasalnya, instruksi yang melarang pedagang menjual hewan kurban dengan dalih mengganggu fasilitas umum itu dianggap ANEH karena selama ini telah berpuluh-puluh tahun para pedagang menjual hewan kurban di trotoar sepanjang Jalan KH. Mas Mansyur dan masyarakat sangat membutuhkan hewan kurban saat Idul Adha untuk ibadah menyembelih hewan kurban. Bagaimana tidak sakit hati bagi kaum muslim yang ada dijakarta instruksi itu terasa tidak adil karena menjelang tahun baru Ahok tidak pernah melarang penjualan terompet tahun baru Masehi/Kristen di trotoar bahkan dia menutup seluruh Jalan Sudirman Thamrin dan membuatkan 16 panggung hiburan untuk para pedagang terompet dan lain-lain dalam memeriahkan malam tahun baru Masehi/Kristen. Itu sebagian kecil saja sebagai contoh, jadi jangan sampai kalian warga Jakarta terlena dengan kegarangan Ahok memimpin. Harus benar benar jeli mana yang bekerja dengan hati bukan karena kepentingan kelompok tertentu. Saya memang mengakui kehebatan Ahok dalam hal memimpin DKI kurang lebih selama 2 tahun, dan saya sempat mengagumi Ahok semasa Aliyah namun dengan bertambahnya wawasan, kuliah di fakultas Hukum UII dan bertemu dengan dosen yang bernama Anang Zubaidy, membuat saya menjadi tahu busuknya Basuki tjahaja Purnama.

Berbicara mengenai kasus ayo ini begitu kompleks, yang tentu berkaitan dengan kebhinekaan NKRI dan toleransi umat beragama. Ketika saya membaca berita di detik.com seorang Presiden Indonesia Islamic Bussiness Forum (IIBF), Heppy Trenggono menyatakan Persoalan Ahok ini bagi Polisi, bagi Jokowi, bagi PDIP sangat rumit, jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan.Kalau hanya perspektif hukum, Ahok tinggal diciduk dari kemarin kemarin. Mereka berfikir keras dan berusaha merekayasa sedemikian rupa. Jika Ahok dipenjara maka efeknya akan Bagi PENGEMBANG yang Telah Mengucurkan investasi Puluhan Trilyun Rupiah, bisa menjadi keruntuhan bisnis, saham Podomoro bisa hancur Dan yang paling besar dampaknya adalah bagi Gerakan Politik yang sedang dilakukan oleh sekelompok TAIPAN yang ingin menguasai Indonesia. Ambisi besar di tahun 2019 adalah menguasai dengan lebih massive lagi. Jika Ahok menang di DKI maka 2/3 kemenangan sudah mereka kantongi. Menangnya Ahok menjadi bukti bahwa mereka bisa mengalahkan segala bentuk perlawanan yang ada di negeri ini. Menguasai Indonesia lebih sederhana dari pada menguasai DKI. Maka jika Ahok jatuh, ini akan menjadi kemunduran luar biasa bagi mereka. Kejatuhan Ahok juga akan menjadikan kekuatan Islam dan Nasionalis terkonsolidasi, yang sasaran utamanya adalah kembali kepada UUD’45. Jika Indonesia kembali ke UUD’45 yang asli, maka kekuasaan tidak akan mungkin mereka rebut. Hari ini saya penuh dengan optimistis, bahwa Allah memberikan hadiah melalui Al Maidah ayat 51 kemudian Ahok kepeleset menafsirkan Al Maidah ayat 51. Saya percaya, Indonesia bangkit!

 

Tinggalkan komentar